Kliping

Kualitas Udara Jakarta Belum Membaik

JAKARTA, KOMPAS.com – Kualitas udara DKI Jakarta pada Jumat (2/8/2019) pukul 11.00 WIB, mencapai angka 167 dengan parameter PM 2,5 konsentrasi 86,6 mikrogram/meter kubik. Dengan angka ini Indonesia menduduki posisi kedua sebagai negara de

ngan kualitas udara tidak sehat setelah Dubai, Uni Emirat Arab, pada laman resmi AirVisual.

Penghitungan kualitas udara DKI Jakarta disesuaikan dengan penghitungan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) dari Amerika Serikat yang menggunakan baku mutu PM 2,5.

AQI sendiri merupakan daftar laporan kualitas udara harian yang memperlihatkan tingkat pencemaran udara di suatu wilayah. AirVisual menjadi salah satu situs yang paling sering dijadikan acuan terkait penghitungan AQI.

Penghitungan AQI dilakukan dengan rumus yang mengkalkulasi besaran konsentrasi polutan di udara dengan titik patah atau breakpoint.

Standar kualitas udara digolongkan ke dalam lima kategori. Untuk udara dengan kualitas udara di bawah 50 dianggap sehat.

Angka 51-100 masuk ke kategori sedang dan angka 100-150 termasuk ke dalam kualitas udara yang tidak sehat bagi beberapa golongan tertentu.

Angka 151-200 masuk ke kategori tidak sehat dan angka 200-300 merupakan golongan udara yang sangat tidak sehat. Sementara, udara dengan angka AQI di atas 300 masuk ke kategori berbahaya.

Sebelumnya, DKI Jakarta menduduki peringkat satu dalam peringkat dunia di situs AirVisual pada Senin (29/7/2019) lalu. Dengan angka 183, Jakarta memperoleh predikat sebagai kota dengan indeks kualitas udara terburuk di dunia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kualitas Udara Jakarta Belum Membaik”, https://megapolitan.kompas.com/read/2019/08/02/15381961/kualitas-udara-jakarta-belum-membaik.
Penulis : Hilel Hodawya
Editor : Irfan Maullana

Related Articles

Back to top button
Close
Close