KegiatanLingkungan Hidup

FGD Panel Etis dan Fatwa Ketahanan Iklim di Indonesia

fatwa (1) fatwa (2) fatwa (1)

Jakarta, 1 Oktober 2019. Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup hadir dalam Acara FGD Panel Etis dan Fatwa Ketahanan Iklim di Indonesia. Pengendalian perubahan iklim tidak hanya bisa dilakukan dengan pendekatan keilmuan saja. Hal ini karena merubah perilaku manusia adalah merubah moral etis dimana hanya mampu dilakukan dengan dorongan para tokoh agama dan budaya. Indonesia berinisiatif untuk mendorong peran para tokoh agama dan tokoh budaya sebagai Panel Etis dunia yang diharapkan dapat berdiri sejajar dengan para ilmuwan Intergovernmental Panel on Climate Change/ IPCC (Panel Keilmuan). Hal ini bertujuan agar para tokoh agama dan budaya dapat memberi panduan moral etis, sehingga upaya masyarakat dunia untuk menanggulangi perubahan iklim dapat semakin baik dalam implementasinya. Pertemuan ini dibuka oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Bapak Rhuanda Agung Sugardiman. Dalam pembukaan tersebut beliau menyampaikan bahwa semua tokoh-tokoh agama di Indonesia yang diawali dengan MUI, serta tokoh-tokoh budaya yang memiliki pengetahuan terkait kearifan lokal, diharapkan bisa memberikan masukan kepada dunia terkait implementasi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Hadir pula pada acara ini Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban Bapak Din Syamsudin yang hadir sebagai salah satu perwakilan Majelis Ulama Indonesia sangat mendukung dibentuknya panel etis ini. Keberadaan panel etis dapat menyeimbangkan pendekatan ilmiah dengan pendekatan agama dan budaya dalam mengendalikan perubahan iklim. Perlunya pembentukan panel etis ini karena perubahan iklim yang utama diakibatkan krisis moral sehingga penyelesaiannya adalah dengan pendekatan etis. Bapak Din Syamsuddin menambahkan kesalahan fatal umat manusia adalah karena melihat sumber daya alam sebagai obyek. Sedangkan dalam Islam alam dan segenap sumber dayanya serta manusia sama-sama ciptaan Allah/Tuhan Semesta Alam, maka ia harus diperlakukan sebagai subyek.

KLHK melalui Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) akan terus menyelenggarakan FGD lanjutan terkait inisiatif pembentukan panel etis ini. Tindak lanjutnya, dari FGD ini akan dijaring masukan untuk bahan pembuatan roadmap pembentukan Panel Etis Dunia. Inisiatif Indonesia ini diharapkan memperoleh dukungan dari negara sahabat dan regional. Inisiatif pembentukan Panel Etis Dunia perlu dilakukan oleh Indonesia karena Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, serta Indonesia adalah negara multiagama dan multietnis. Dengan kondisi tersebut, inisiatif Indonesia untuk pembentukan Panel Etis Dunia di UNFCCC diharapkan dapat diterima oleh negara-negara di dunia, khususnya negara-negara berkembang yang masih kuat dalam tataran agama dan budayanya. Hadir dalam pertemuan FGD ini antara lain Prof. Rizaldi Noer Direktur Eksekutif CCROM IPB, Hanafi S. Guciano (Civil Society), Yusra Khan Ditjen Multilateral Kemenlu, Hayu Susilo Parabowo Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam MUI.

Related Articles

Back to top button
Close
Close